Inilah tulisan pertamaku mengenai bangsaku. entah ini esai atau apalah
jenis karangan ini, tapi aku hanya mencoba menuangkan pikiranku dalam
bentuk tulisan.
Ada yang salah di negri Indonesia
ini. Degradasi moral, budaya global negative, hingga kesalahpahaman dalam
berbagai bidang. Pada kali ini saya akan
mencoba membahas tentang aspek pendidikan.
Indonesiaku, negri elok yang kucinta dengan seluruh struktur yang ada
Dahulu engkau banyak disegani, ditakuti, dibela
Tapi, sekarang kau dinjak-injak bagai sampah makanan instan yang tersisa
Sepenggal sajak diatas
mengambarkan betapa jayanya bangsa ini ketika tahu ’80 hingga ’90 an oleh
kepemimpinan presiden Suharto. Semua negara berkembang takut kepada Indonesia. Pendidikan
lebih maju, sikap kebangsaan lebih dikuatkan.
Namun, apa yang terjadi sekarang?
Banyak yang telah melupakan
bangsanya sendiri. Moral telah menurun dan terinjak-injak. Budaya “instan”
terus dilakukan. Maraknya kriminalitas dan korupsi merajalela. Politik diperdebatkan.
Para pemimpin berseteru merebutkan jabatan hanya untuk popularitas semata. Hanya
ada “janji palsu” dari para pemimpin bangsa.
Segalanya terasa “instan” hanya
dengan uang. Dengan uang merasa semua dapat diatur, mulai dari pemilihan
pendidikan dengan “nama berkualitas”, pelantikan PNS hingga pendapatan jabatan
pemimpin bangsa.
Lalu dimananya yang salah?
Apa yang menyebabkan itu semua?
Lalu dari mana kita
memperbaikinya?
Jawaban yang singkat: PENDIDIKAN
Dengan segala aspek pendidikan
bangsa ini dapat diubah. Mulai dari pendidikan keluarga hingga sekolah.
Pertama-tama saya akan mencoba
membahas tentang pendidikan keluarga. Keluarga menjadi faktor yang sangat
penting bagi seseorang. Mulai dari kecil hingga dewasa. Masa-masa paling
menentukan adalah bagi anak seorang anak
yang berusia 0-8 tahun, dikarenakan pada usia tersebut anak mencapai masa emas
dalam pertumbuhannya. Disinilah saatnya orang tua memiliki kesempatan lebih
untuk mendidik, mulai dari menanamkan nilai-nilai spiritual, moral, dan etika
yang baik. Dengan pembiasaan dari kecil inilah akan membuat kedepannya akan
terasa lebih bermartabat.
Sangat memprihatinkan, ketika
seorang anak kecil dititipkan kepada orang tua asuh dari masa bayinya. Secedes apapun
pengasuh anak tersebut, anak kecil akan merasa kekuragan perhatian dari orang
tuanya seiring pertumbuhannya. Hal ini akan menimbulkan pencarian perhatian
yang berlebih dan pemberontakan dimasa dewasanya. Perhatian dan kasih sayang,
utamanya dari seorang ibu akan menimbulkan zona nyaman dari sang anak sehingga
dapat menerapkan unsur-unsur pendidikan karakter pada anak.
Selanjutnya saya akan membahas
tentang pendidikan sekolah. Mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi.
Pendidikan Anak Usia Dini hingga
TK. Banyak orang tua yang memulai pendidikan anak pada jenjang ini dimulai pada
usia 3-4 tahun. Seperti yang telah dikemukakan di atas usia 0-8 merupakan usia
emas, maka seharusnya pendidikan pada usia-usia ini sangat disoroti dan
dibimbing oleh seorang yang telah mendapatkan pendidikan psikologi anak yang
ditempuh minimal jenjang sarjana. Mengapa demikian? Karena dengan begitu akan
lebih terarah dan terbina dalam pendidikannya.
Namun, bagi sebagian orang pada
umumnya menganggap bahwa pendidikan jenjang PAUD dan TK merupakan hal yang
mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Padahal, tidak semua orang dapat
mengetahui tentang psikologi dan perkembangan anak dimasa itu, sehingga
berakibat pendidikan yang asal-asalan yang akan mencetak outpu yang kurang
baik. Misalnya saja dalam hal memperingatkan anak yang hiperaktif. Bagi orang
awam cenderung mengingatkan dengan cara kasar atau menggunakan kata-kata negatif
yang berakibat munculnya sikap kurang baik ketika dewasa (mengucapkan “jangan
nakal” ketika dewasa akan menjadi nakal). Hal ini terjadi karena pada usia emas
anak hanya dapat menerima kata-kata positif. Namun, bagi orang yang telah
mengetahui tentang psikologi pendidikan anak akan dapat menganalisis sebab anak
hiperaktif, dan dapat mengatasinya dengan cara yang benar (ccontoh: anak
hiperaktif karena cerda, maka akan diarahkan untuk membuat aktifitas untuk
menyalurkan kehiperaktifannya.
Selanjutnya tentang Sekolah Dasar
(SD). Di masa SD juga masa yang penting dimana anak-anak mendapatkan pendidikan
dasar pada bidang akademiknya. Dasar-dasar yang diberikan pada guru SD ini
seharusnya bersifat universal, artinya tidak hanya di bidang akademik, namun
juga moralnya. Saya setuju dengan kabar yang beredar baru-baru ini bahwa telah
dicanangkan bahwa guru bimbingan konseling masuk ke SD, karena dalam anak SD
juga memerlukan konseling untuk memecahkan masalh belajarnya. Guru BK di SD
diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan kea rah yang lebih baik.
Untuk jenjang SMP hingga SMA
sebenarnya tidak beda dengan SD, yaitu guru hendaknya memberikan bimbingan dan
pengajaran baik dari segi akademik maupun moralnya. Namun, sangat
memprihatinkan bahwa sekarang ini banyak guru-guru yang mengajari anak didiknya
untuk mencontek dan mengajari ketika ujian demi membantu agar anak tersebut
lulus sehingga dapat meningkatkan kualitas sekolah dimana dia mengajar. Hal ini
sangatlah buruk, karena di masa kecilnya telah dihalalkan cara korupsi kecil
seperti demikian, lalu bagaimana ketika dewasanya nanti menjadi pemimpin
bangsa? Dia akan lebih menjadi koruptor yang lebih besar lagi.
Ketika jenjang perguruan tinggi,
mahasiswa lebih dituntut mandiri. Dosen berperan sebagai mediator untuk
kelulusannya saja. Menurut saya hal ini benar, karena mahasiswa telah mencapai
usia remaja awal hingga dewasa akhir sehingga saatnya pendidikan moral yang
telah diperoleh diamalkan, meskipun juga memerlukan bimbingan, namun tidak
dominan.
Jadi, pendidikan sangat
ditentukan oleh lingkungan keluarga dan sekolah. Ketika seluruh komponen yang
ada dapat melaksanakan fungsi dan perannya masing-masing, maka pendidikan akan
berjalan lancar sehingga dapat mencetak generasi yang dpat mepertahankan
bangsa.
Categories:






0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan sopan