Selasa, 02 Desember 2014

Pendidikan di Negeriku

Posted by Unknown On 20.51
Inilah tulisan pertamaku mengenai bangsaku. entah ini esai atau apalah jenis karangan ini, tapi aku hanya mencoba menuangkan pikiranku dalam bentuk tulisan.


Ada yang salah di negri Indonesia ini. Degradasi moral, budaya global negative, hingga kesalahpahaman dalam berbagai  bidang. Pada kali ini saya akan mencoba membahas tentang aspek pendidikan.
Indonesiaku, negri elok yang kucinta dengan seluruh struktur yang ada
Dahulu engkau banyak disegani, ditakuti, dibela
Tapi, sekarang kau dinjak-injak bagai sampah makanan instan yang tersisa
Sepenggal sajak diatas mengambarkan betapa jayanya bangsa ini ketika tahu ’80 hingga ’90 an oleh kepemimpinan presiden Suharto. Semua negara berkembang takut kepada Indonesia. Pendidikan lebih maju, sikap kebangsaan lebih dikuatkan.
Namun, apa yang terjadi sekarang?
Banyak yang telah melupakan bangsanya sendiri. Moral telah menurun dan terinjak-injak. Budaya “instan” terus dilakukan. Maraknya kriminalitas dan korupsi merajalela. Politik diperdebatkan. Para pemimpin berseteru merebutkan jabatan hanya untuk popularitas semata. Hanya ada “janji palsu” dari para pemimpin bangsa.
Segalanya terasa “instan” hanya dengan uang. Dengan uang merasa semua dapat diatur, mulai dari pemilihan pendidikan dengan “nama berkualitas”, pelantikan PNS hingga pendapatan jabatan pemimpin bangsa.
Lalu dimananya yang salah?
Apa yang menyebabkan itu semua?
Lalu dari mana kita memperbaikinya?
Jawaban yang singkat: PENDIDIKAN
Dengan segala aspek pendidikan bangsa ini dapat diubah. Mulai dari pendidikan keluarga hingga sekolah.
      Pertama-tama saya akan mencoba membahas tentang pendidikan keluarga. Keluarga menjadi faktor yang sangat penting bagi seseorang. Mulai dari kecil hingga dewasa. Masa-masa paling menentukan adalah bagi anak  seorang anak yang berusia 0-8 tahun, dikarenakan pada usia tersebut anak mencapai masa emas dalam pertumbuhannya. Disinilah saatnya orang tua memiliki kesempatan lebih untuk mendidik, mulai dari menanamkan nilai-nilai spiritual, moral, dan etika yang baik. Dengan pembiasaan dari kecil inilah akan membuat kedepannya akan terasa lebih bermartabat.
      Sangat memprihatinkan, ketika seorang anak kecil dititipkan kepada orang tua asuh dari masa bayinya. Secedes apapun pengasuh anak tersebut, anak kecil akan merasa kekuragan perhatian dari orang tuanya seiring pertumbuhannya. Hal ini akan menimbulkan pencarian perhatian yang berlebih dan pemberontakan dimasa dewasanya. Perhatian dan kasih sayang, utamanya dari seorang ibu akan menimbulkan zona nyaman dari sang anak sehingga dapat menerapkan unsur-unsur pendidikan karakter pada anak.
Selanjutnya saya akan membahas tentang pendidikan sekolah. Mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi.
      Pendidikan Anak Usia Dini hingga TK. Banyak orang tua yang memulai pendidikan anak pada jenjang ini dimulai pada usia 3-4 tahun. Seperti yang telah dikemukakan di atas usia 0-8 merupakan usia emas, maka seharusnya pendidikan pada usia-usia ini sangat disoroti dan dibimbing oleh seorang yang telah mendapatkan pendidikan psikologi anak yang ditempuh minimal jenjang sarjana. Mengapa demikian? Karena dengan begitu akan lebih terarah dan terbina dalam pendidikannya.
      Namun, bagi sebagian orang pada umumnya menganggap bahwa pendidikan jenjang PAUD dan TK merupakan hal yang mudah dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Padahal, tidak semua orang dapat mengetahui tentang psikologi dan perkembangan anak dimasa itu, sehingga berakibat pendidikan yang asal-asalan yang akan mencetak outpu yang kurang baik. Misalnya saja dalam hal memperingatkan anak yang hiperaktif. Bagi orang awam cenderung mengingatkan dengan cara kasar atau menggunakan kata-kata negatif yang berakibat munculnya sikap kurang baik ketika dewasa (mengucapkan “jangan nakal” ketika dewasa akan menjadi nakal). Hal ini terjadi karena pada usia emas anak hanya dapat menerima kata-kata positif. Namun, bagi orang yang telah mengetahui tentang psikologi pendidikan anak akan dapat menganalisis sebab anak hiperaktif, dan dapat mengatasinya dengan cara yang benar (ccontoh: anak hiperaktif karena cerda, maka akan diarahkan untuk membuat aktifitas untuk menyalurkan kehiperaktifannya.
     Selanjutnya tentang Sekolah Dasar (SD). Di masa SD juga masa yang penting dimana anak-anak mendapatkan pendidikan dasar pada bidang akademiknya. Dasar-dasar yang diberikan pada guru SD ini seharusnya bersifat universal, artinya tidak hanya di bidang akademik, namun juga moralnya. Saya setuju dengan kabar yang beredar baru-baru ini bahwa telah dicanangkan bahwa guru bimbingan konseling masuk ke SD, karena dalam anak SD juga memerlukan konseling untuk memecahkan masalh belajarnya. Guru BK di SD diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan kea rah yang lebih baik.
      Untuk jenjang SMP hingga SMA sebenarnya tidak beda dengan SD, yaitu guru hendaknya memberikan bimbingan dan pengajaran baik dari segi akademik maupun moralnya. Namun, sangat memprihatinkan bahwa sekarang ini banyak guru-guru yang mengajari anak didiknya untuk mencontek dan mengajari ketika ujian demi membantu agar anak tersebut lulus sehingga dapat meningkatkan kualitas sekolah dimana dia mengajar. Hal ini sangatlah buruk, karena di masa kecilnya telah dihalalkan cara korupsi kecil seperti demikian, lalu bagaimana ketika dewasanya nanti menjadi pemimpin bangsa? Dia akan lebih menjadi koruptor yang lebih besar lagi.
     Ketika jenjang perguruan tinggi, mahasiswa lebih dituntut mandiri. Dosen berperan sebagai mediator untuk kelulusannya saja. Menurut saya hal ini benar, karena mahasiswa telah mencapai usia remaja awal hingga dewasa akhir sehingga saatnya pendidikan moral yang telah diperoleh diamalkan, meskipun juga memerlukan bimbingan, namun tidak dominan.
      Jadi, pendidikan sangat ditentukan oleh lingkungan keluarga dan sekolah. Ketika seluruh komponen yang ada dapat melaksanakan fungsi dan perannya masing-masing, maka pendidikan akan berjalan lancar sehingga dapat mencetak generasi yang dpat mepertahankan bangsa.
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan sopan

  • Mahasiswa

  • Beasiswa Bidik Misi
  • Praktek Pengalaman Lapangan
  • Pusat Kuliah Kerja Nyata (KKN)
  • Seleksi Penerimaan Mahasiswa (SPMU)
  • Sistem Informasi Skripsi
  • Contact me

  • Facebook
  • Twitter
  • Google Plus