SEJARAH
BIMBINGAN DAN KONSELING
Kapan persisnya konseling dimulai
jelas memerlukan penelitian yang ekstensif, namun ribuan bukti lain menunjukkan
kalaun dari abad kea bad manusia selalu meminta nasihat, petunjuk, dan
bimbingan orang lain yang dianggap memiliki pengetahuan yang superior, wahyu,
dan pengalaman yang unggul. Dengan demikian maka terciptalah bimbingan dan
konseling
A.
Sejarah
Bimbingan dan Konseling di Dunia Internasional
Latar
belakang perkembangan profesi konseling tidak dapat dipisahkan dari dua jalur
penanganan terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Barat, yaitu
tradisi gangguan mental dan penanganan masalah-masalah pendidikan dan pekerjaan
di sekolah.
Evolusi
profesi konseling dapat terlihat pada rangkaian perjalanan profesi ini yang
disusun secara kronologis sebagai berikut:
1.
Era
Tahun 1900-1909 (Era Perintisan)
Tiga
tokoh utama pada periode ini adalah Jesse B. Davis, Frank Parsons, dan Clifford
Beers. Davis adalah orang pertama yang mengembangkan program bimbingan yang
sistematis di sekolah-sekolah. Pada tahun 1907, sebagai pejabat yang
bertanggung jawab pada the Grand
Rapids (Michigan) school system, ia menyarankan agar guru kelas
yang mengajar English
Composition untuk mengajar bimbingan satu kali seminggu yang
bertujuan untuk mengembangkan karakter dan mencegah terjadinya masalah.
Sementara itu, Frank Parsons di Boston melakukan hal yang hampir sama dengan
Davis. Ia memfokuskan pada program pengembangan dan pencegahan. Ia dikenal
karena mendirikan Boston’s
Vocational Bureau pada tahun 1908. Berdirinya biro ini
mempresentasikan langkah maju diinstitusionalisasikannya bimbingan karier (vocational guidance).
Pada
tahun yang sama ketika Frank Parsons mendirikan Vocational Bureau(1908), William Heyle juga mendirikan Community Psychiatric Clinic untuk
pertama kalinya. Selanjutnya, The
Juvenille Psychopathic institute didirikan untuk memberi bantuan
kepada para pemuda di Chicago yang mempunyai masalah. Dalam keadaan tersebut
terlibat pula para psikolog. Tentu saja tidak mungkin berbicara soal kesehatan
mental tanpa melibatkan orang-orang yang cukup terkenal, seperti Sigmund Freud
dan Joseph Breuer.
2.
Era
Tahun 1910-1970
Pada
era ini konseling mulai diinstitusionalisasikan dengan didirikannya the National Vocational Guidance
Association (NVGA) pada tahun 1913. Selain itu, pemerintah Amerika
Serikat mulai memanfaatkan pelayanan bimbingan untuk membantu veteran perang.
Istilah
bimbingan (guidance) ini
kemudian menjadi label populer bagi gerakan konseling di sekolah-sekolah selama
hampir 50 tahunan. Program bimbingan yang terorganisasikan mulai muncul dengan
frekuensi tinggi di jenjang SMP sejak 1920-an, dan lebih intensif lagi di
jenjang SMA dengan pengangkatan guru BK yang khusus dipisahkan untuk siswa
laki-laki dan siswa perempuan. Titik inilah era dimulainya pemfungsian
disiplin, kelengkapan daftar hadir selama satu tahun ajaran dan tanggung jawab
administrasi lainnya. Akibatnya banyak program pendidikan dekade ini
menitikberatkan pada upaya membantu siswa-siswa yang mengalami kesulitan akademis
atau pribadi dengan mengirimkan mereka ke guru BK untuk mengubah perilaku atau
memperbaiki kelemahan.
Selain
jenjang SMP dan SMA, gerakan konseling untuk SD tampaknya juga dimulai di akhir
dekade 1920-an hingga awal dekade 1930-an, dipicu oleh tulisan-tulisan dan
kerja keras William Burnham yang menekankan peran guru untuk memajukan
kesehatan mental anak yang memang banyak diabaikan diperiode tersebut.
Pada
dekade 1940-an ditandai munculnya teori konseling Non-Directiveyang dipelopori oleh Carl Rogers. Ia
mempublikasikan buku yang berjudulCounseling
and Psychotherapy pada tahun 1942. Pada tahun 1950-an muncul pula
berbagai organisasi konseling yaitu the
American Personnel and Guidance Association (APGA). Selanjutnya
disahkannya the National Defense
Education Act (NDEA) pada tahun 1958. Undang-undang ini memberikan
dana bagi sekolah untuk meningkatkan program konseling sekolah. Konseling mulai
melakukan diversifikasi ke area yang lebih luas diawali pada tahun 1970.
Konseling mulai berkembang di luar sekolah seperti di lembaga-lembaga komunitas
dan pusat-pusat kesehatan mental.
3.
Era
Tahun 1980-an
Dekade
ini profesi konseling sudah mulai berkembang dengan munculnya standarisasi
training dan sertifikasi. Pada tahun 1981 dibentuk the Council for Accreditation of Counseling and Related Educational
Program (CACREP). CACREP berfungsi untuk melakukan standarisasi
pada program pendidikan kondeling di tingkat master dan doktor pada bidang
konseling sekolah, konseling komunitas, konseling kesehatan mental, konseling
perkawinan dan keluarga, dan konseling di Perguruan Tinggi.
4.
Era
Tahun 1990-an
Pada
akhir ke-19-an, spesialis psikiatri telah mendapat tempat berdampingan dengan
spesialis pengobatan lain. Dengan makin stabilnya posisi psikiatri dalam
penanganan gangguan psikologis atau yang lebih dikenal dengan sakit mental,
muncullah psikiatri sebagai spesialisasi baru. Spesialisasi baru ini dipelopori
oleh Van Ellenberger Renterghem dan Van Eeden.
Selama
tahun 1980-an dan 1990-an, sejumlah permasalahan sosial mempengaruhi anak-anak
yang pada gilirannya mengakselerasi pertumbuhan konseling SD. Isu-isu seperti
penyalahgunaan obat, penganiayaan anak, pelecehan seksual dan pengabaian anak,
plus meningkatnya minat dan atensi, bagi pencegahannya, mengarah kepada
pemandatan konseling SD.
B.
Sejarah
Bimbingan dan Konseling di Indonesia
Perkembangan layanan bimbingan di Indonesia berbeda dengan di
Amerika.Jika di Amerika dimulai usaha perorangan dan pihak swasta,kemudian
berangsur-angsur menjadi usaha pemerintah. Sedangkan Indonesia perkembangannya
dimulai dengan kegiatan di sekolah dan usaha-usaha pemerintah. Mengenai
penggunaan istilah Guidance dan Counseling di Indonesia ada yang yang tetap
menggunakan istiah bahasa asing sehingga sering disingkat “GC”, Bimbingan dan
Penyuluhan dengan singkatan “BP”dan Bimbingan dan konseling dengan singkatan “BK”.
Dan dipergunakan di IKIP Yogyakarta adalah Bimbingan dan Konseling.
Bimbingan dan konseling secara formal dibicarakan oleh para ahli baru pada
tahun 1960. Tetapi di Yogyakarta pada tahun 1958, Drs.Tohari musnamar, dosen
IKIP Yogyakarta telah mempelopori pelaksanaan BK di sekolah untuk pertama kali
di SMA Teladan Yogyakarta. Sedang pada tahun 1960 di adakan konferensi FKIP
seluruh Indonesia di Malang, memutuskan bahwa bimbingan dan konseling dimasukan
dalam FKIP. Dan pada tahun 1961 mulai diadakan layanan bimbingan dan konseling
diseluruh SMA Teladan di Indonesia, sejak itu lah BK di Indonesia dimulai.
Pada kurikulum 1975 untuk sekolah umum, dan kurikulum 1976 untuk sekolah
kejuruan dicantumkan secara tegas bahwa layanan bimbingan dan konseling harus
dilaksanakan pada tiap-tiap sekolah. Perkembangan mengenai bimbingan dan
konseling disekolah di Indonesia sangat dirasakan perlu dan pentingnya ada
pembimbing khusus (profesional) yang mengenai bimbingan dan konseling di
sekolah.
Perumusan dan pencantuman resmi di dalam rencana pelajaran SMA
disusul dengan berbagai pengembangan layanan bimbingan dan konseling disekolah,
seperti rapat kerja, penataran dan lokakarya. Puncak dari usaha ini adalah
didirikannnya jurusan bimbingan dan penyuluhan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan(IKIP)
negeri. Salah satu yang membuka jurusan Bimbingan dan Penyuluhan adalah IKIP
Bandung pada tahun 1963 yang sekarang dikenal dengan nama UPI. Usaha mewujudkan
sistem sekolah pembangunan dilaksanakan melalui proyek pembaharuan pendidikan,
yang diberi nama Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) yang diuji coba
didelapan IKIP, menghasilkan dua naskah penting dalam sejarah perkembangan
layanan bimbingan di Indonesia yaitu:
a. Pola dasar
rencana dan pengembangan program bimbingan dan penyuluhan melalui proyek-proyek
perintis sekolah pembangunan.
b. Pedoma
operasional pelayanan bimbingan pada proyek-proyek perintis sekolah
pembangunan.
Fase – fase perkembembangan
Bimbingan dan Konseling di Indonesia
1. Perkembangan
bimbingan dan konseling sebelum kemerdekaan
Masa ini merupakan masa penjajahan
Belanda dan Jepang, para siswa didiik untuk mengabdi demi kepentingan penjajah.
Dalam situasi seperti ini, upaya bimbingan dikerahkan. Bangsa Indonesia
berusaha untuk memperjuangkan kemajun bangsa Indonesia melalui
pendidikan. Salah satunya adalah taman siswa yang dipelopori oleh K.H.
Dewantara yang menanamkan nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut
pandang bimbingan, hal tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan
bimbingan.
2. Dekade
40-an
Dalam bidang pendidikan, pada dekade
40-an lebih banyak ditandai dengan perjuangan merealisasikan kemerdekaan
melalui pendidikan. Melalui pendidikan yang serba darurat manakala pada saat
itu di upayakan secara bertahap memecahkan masalah besar anatara lain melalui
pemberantasan buta huruf. Sesuai dengan jiwa pancasila dan UUD 45. Hal ini
pulalaah yang menjadi fokus utama dalam bimbingan pada saat itu.
3. Dekade
50-an
Bidang pendidikan menghadapi
tentangan yang amat besar yaitu memecahkan masalah kebodohan dan
keterbelakangan rakyat Indonesia. Kegiatan bimbingan pada masa dekade ini lebih
banyak tersirat dalam berbagai kegiatan pendidikan dan benar benar menghadapi
tantangan dalam membantu siswa disekolah agar dapat berprestasi.
4. Dekade
60-an
Beberapa peristiwa penting dalam pendidikan pada dekade ini
:
a. Ketetapan MPRS tahun 1966 tentang
dasar pendidikan nasional
b. Lahirnya kurikulum SMA gaya Baru
1964
c. Lahirnya kurikulum 1968
d. Lahirnya jurusan bimbingan dan
konseling di IKIP tahun 1963membuka Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan yang
sekarang dikenal di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan nama Jurusan
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB).
Keadaan dia tas memberikan tantangan
bagi keperluan pelayanan bimbinga dan konseling disekolah.
5. Dekade
70-an
Dalam dekade ini bimbingan di
upayakan aktualisasi nya melalui penataan legalitas sistem, dan pelaksanaannya.
Pembangunan pendidikan terutama diarahkan kepada pemecahan masalah utama
pendidikan yaitu :
a. Pemerataan kesempatan belajar,
b. Mutu,
c. Relevansi, dan
d. Efisiensi.
Pada dekade ini, bimbingan dilakukan
secara konseptual, maupun secara operasional. Melalui upaya ini semua pihak
telah merasakan apa, mengapa, bagaimana, dan dimana bimbingan dan konseling.
6. Dekade
80-an
Pada dekade ini, bimbingan ini
diupayakan agar mantap. Pemantapan terutama diusahakan untuk menuju kepada
perwujudan bimbingan yang professional. Dalam dekade 80-an pembangunan telah
memasuki Repelita III, IV, dan V yang ditandai dengan menuju lepas landas.
Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini:
Beberapa upaya dalam pendidikan yang dilakukan dalam dekade ini:
a.
Penyempurnaan
kurikulum
b.
Penyempurnaan
seleksi mahasiswa baru
c.
Profesionalisasi
tenaga pendidikan dalam berbagai tingkat dan jenis
d.
Penataan
perguruan tinggi
e.
Pelaksnaan
wajib belajar
f.
Pembukaan
universitas terbuka
g.
Lahirnya
Undang – Undang pendidikan nasional
Beberapa kecenderungan yang
dirasakan pada masa itu adalah kebutuhan akan profesionalisasi layanan,
keterpaduan pengelolaan, sistem pendidikan konselor, legalitas formal,
pemantapan organisasi, pengmbangan konsep – konsep bimbingan yang berorientasi
Indonesia, dsb.
7. Meyongsong
era Lepas landas
Era lepas landas mempunyai makna
sebagai tahap pembangunan yang ditandai dengan kehidupan nasional atas
kemampuan dan kekuatan sendiri khususnya dalam aspek ekonomi. Cirri kehidupan
lepas landas ditandai dengan keberadaan dan berkembang atas dasar kekuatan dan
kemampuan sendiri, maka cirri manusia lepas landas adalah manusia yang mandiri
secara utuh dengan tiga kata kunci : mental, disiplin, dan integrasi nasional
yang diharapkan terwujud dalam kemampuannya menghadapi tekanan – tekanan zaman
baru yang berdasarkan peradaban komunikasi informasi.
8. Bimbingan
berdasarkan pancasila
Bimbingan mempunyai peran yang amat penting dan strategis
dalam perjalanan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Manusia Indonesia yang
dicita-citakan adalah manusia pancasila dengan cirri-ciri sebagaimana yang
terjabar dalam P-4 sebanyak 36 butir bagi bangsa Indonesia, pancasila
merupakan dasar Negara, pandangan hidup, kepribadian bangsa dan idiologi nasional.
Sebagai bangsa, pancasila menuntut bangsa Indonesia mampu menunjukkan ciri-ciri
kepribadiannya ditengah-tengah pergaulan dengan bangsa lain. Bimbingan sebagai
bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan dan mempunyai tanggung jawab yang
amat besar guna mewujudkan manusia pancasila karena itu seluruh kegiatan
bimbingan di Indonesia tidak lepas dari pancasila.
DAFTAR PUSTAKA
Rujukan Buku
Gibson,
Robert L. dan Marianne H. Mitchell. 2011. Bimbingan
dan Konseling. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Internet
Ayu, Krisna. 2012. Makalah Sejarah Bimbingan Konseling. (diakses dari http://ayu-krisna5.blogspot.com/2012/09/makalah-sejarah-bimbingan-konseling.html pada hari Rabu, 9 Oktober 2013 pukul 09.34 WIB)
Budifilo. 2012. Sejarah BK di Indonesia (diakses dari http://budifilo.wordpress.com/2012/10/14/sejarah-bk-di-indonesia/ pada hari Selasa, 8 Oktober 2013 pukul 23.27 WIB)
Categories:






0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan sopan