ANALISIS PEMAHAMAN INDIVIDU TOKOH:
BACHRUDDIN JUSUF HABIBIE
A.
Biografi B.J Habibie
Bapak Teknologi Dan Demokrasi Indonesia
Masa Muda.
Prof. DR (HC). Ing. Dr.
Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau dikenal sebagai BJ Habibie (73 tahun)
merupakan pria Pare-Pare (Sulawesi Selatan) kelahiran 25 Juni 1936.Habibie
menjadi Presiden ke-3 Indonesia selama 1.4 tahun dan 2 bulan menjadi Wakil
Presiden RI ke-7.Habibie merupakan “blaster” antara orang Jawa (ibunya) dengan
orang Makasar atau Pare-Pare (ayahnya). Dimasa kecil, Habibie telah menunjukkan
kecerdasan dan semangat tinggi pada ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya
Fisika. Selama enam bulan, ia kuliah di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung
(ITB), dan dilanjutkan ke Rhenisch Wesfalische Tehnische Hochscule-Jerman pada
1955. Dengan dibiayai oleh ibunya,R.A. Tuti Marini Puspowardoyo, Habibie muda
menghabiskan 10 tahun untuk menyelesaikan studi S-1 hingga S-3 di
Aachen-Jerman.
Berbeda dengan
rata-rata mahasiswa Indonesia yang mendapat beasiswa di luar negeri, kuliah
Habibie (terutama S-1 dan S-2) dibiayai langsung oleh Ibunya yang melakukan
usaha catering dan indekost di Bandung setelah ditinggal pergi suaminya (ayah
Habibie). Habibie mengeluti bidang Desain dan Konstruksi Pesawat di Fakultas
Teknik Mesin. Selama lima tahun studi di Jerman akhirnya Habibie memperoleh
gelar Dilpom-Ingenenieur atau diploma teknik (catatan : diploma teknik di
Jerman umumnya disetarakan dengan gelar Master/S2 di negara lain) dengan
predikat summa cum laude.Pak Habibie melanjutkan program doktoral setelah
menikahi teman SMA-nya, Ibu Hasri Ainun Besari pada tahun 1962.Bersama dengan
istrinya tinggal di Jerman, Habibie harus bekerja untuk membiayai biaya kuliah
sekaligus biaya rumah tangganya.Habibie mendalami bidang Desain dan Konstruksi
Pesawat Terbang.Tahun 1965, Habibie menyelesaikan studi S-3 nya dan mendapat
gelar Doktor Ingenieur (Doktor Teknik) dengan indeks prestasi summa cum laude.
Karir di Industri.
Selama menjadi
mahasiswa tingkat doktoral, BJ Habibie sudah mulai bekerja untuk menghidupi
keluarganya dan biaya studinya.Setelah lulus, BJ Habibie bekerja di
Messerschmitt-Bölkow-Blohm atau MBB Hamburg (1965-1969 sebagai Kepala Penelitian
dan Pengembangan pada Analisis Struktrur Pesawat Terbang, dan kemudian menjabat
Kepala Divisi Metode dan Teknologi pada industri pesawat terbang komersial dan
militer di MBB (1969-1973). Atas kinerja dan kebriliannya, 4 tahun kemudian, ia
dipercaya sebagai Vice President sekaligus Direktur Teknologi di MBB periode
1973-1978 serta menjadi Penasihast Senior bidang teknologi untuk Dewan Direktur
MBB (1978 ). Dialah menjadi satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki
jabatan nomor dua di perusahaan pesawat terbang Jerman ini.Sebelum memasuki
usia 40 tahun, karir Habibie sudah sangat cemerlang, terutama dalam desain dan
konstruksi pesawat terbang. Habibie menjadi “permata” di negeri Jerman dan
iapun mendapat “kedudukan terhormat”, baik secara materi maupun intelektualitas
oleh orang Jerman.Selama bekerja di MBB Jerman, Habibie menyumbang berbagai
hasil penelitian dan sejumlah teori untuk ilmu pengetahuan dan teknologi
dibidang Thermodinamika, Konstruksi dan Aerodinamika. Beberapa rumusan teorinya
dikenal dalam dunia pesawat terbang seperti “Habibie Factor“, “Habibie Theorem”
dan “Habibie Method“.
Kembali ke Indonesia
Pada tahun 1968, BJ
Habibie telah mengundang sejumlah insinyur untuk bekerja di industri pesawat
terbang Jerman.Sekitar 40 insinyur Indonesia akhirnya dapat bekerja di MBB atas
rekomendasi Pak Habibie.Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan skill dan
pengalaman (SDM) insinyur Indonesia untuk suatu saat bisa kembali ke Indonesia
dan membuat produk industri dirgantara (dan kemudian maritim dan darat). Dan
ketika (Alm) Presiden Soeharto mengirim Ibnu Sutowo ke Jerman untuk menemui
seraya membujuk Habibie pulang ke Indonesia, BJ Habibie langsung bersedia dan
melepaskan jabatan, posisi dan prestise tinggi di Jerman. Hal ini dilakukan BJ
Habibie demi memberi sumbangsih ilmu dan teknologi pada bangsa ini. Pada 1974
di usia 38 tahun, BJ Habibie pulang ke tanah air. Iapun diangkat menjadi
penasihat pemerintah (langsung dibawah Presiden) di bidang teknologi pesawat
terbang dan teknologi tinggi hingga tahun 1978.Meskipun demikian dari tahun
1974-1978, Habibie masih sering pulang pergi ke Jerman karena masih menjabat
sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB.
Habibie mulai
benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan tingginya di Perusahaan Pesawat
Jerman MBB pada 1978. Dan sejak itu, dari tahun 1978 hingga 1997, ia diangkat
menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap
sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu
Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan
lainnya.Ketika menjadi Menristek, Habibie mengimplementasikan visinya yakni
membawa Indonesia menjadi negara industri berteknologi tinggi.Ia mendorong
adanya lompatan dalam strategi pembangunan yakni melompat dari agraris langsung
menuju negara industri maju. Visinya yang langsung membawa Indonesia menjadi
negara Industri mendapat pertentangan dari berbagai pihak, baik dalam maupun
luar negeri yang menghendaki pembangunan secara bertahap yang dimulai dari
fokus investasi di bidang pertanian. Namun, Habibie memiliki keyakinan kokoh
akan visinya, dan ada satu “quote” yang terkenal dari Habibie yakni :
“I have some figures which compare the
cost of one kilo of airplane compared to one kilo of rice. One kilo of airplane
costs thirty thousand US dollars and one kilo of rice is seven cents. And if
you want to pay for your one kilo of high-tech products with a kilo of rice, I
don’t think we have enough.” (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile -1998.)
Kalimat diatas
merupakan senjata Habibie untuk berdebat dengan lawan politiknya.Habibie ingin
menjelaskan mengapa industri berteknologi itu sangat penting. Dan ia
membandingkan harga produk dari industri high-tech (teknologi tinggi) dengan
hasil pertanian. Ia menunjukkan data bahwa harga 1 kg pesawat terbang adalah
USD 30.000 dan 1 kg beras adalah 7 sen (USD 0,07). Artinya 1 kg pesawat terbang
hampir setara dengan 450 ton beras. Jadi dengan membuat 1 buah pesawat dengan
massa 10 ton, maka akan diperoleh beras 4,5 juta ton beras.Pola pikir Pak
Habibie disambut dengan baik oleh Pak Harto.Pres. Soeharto pun bersedia
menggangarkan dana ekstra dari APBN untuk pengembangan proyek teknologi
Habibie. Dan pada tahun 1989, Suharto memberikan “kekuasan” lebih pada Habibie
dengan memberikan kepercayaan Habibie untuk memimpin industri-industri
strategis seperti Pindad, PAL, dan PT IPTN.
Habibie menjadi RI-1
Secara materi, Habibie
sudah sangat mapan ketika ia bekerja di perusahaan MBB Jerman. Selain mapan,
Habibie memiliki jabatan yang sangat strategis yakni Vice President sekaligus
Senior Advicer di perusahaan high-tech Jerman. Sehingga Habibie terjun ke
pemerintahan bukan karena mencari uang ataupun kekuasaan semata, tapi lebih
pada perasaan “terima kasih” kepada negara dan bangsa Indonesia dan juga kepada
kedua orang tuanya.Sikap serupa pun ditunjukkan oleh Kwik Kian Gie, yakni
setelah menjadi orang kaya dan makmur dahulu, lalu Kwik pensiun dari bisnisnya
dan baru terjun ke dunia politik.Bukan sebaliknya, yang banyak dilakukan oleh para
politisi saat ini yang menjadi politisi demi mencari kekayaan/popularitas
sehingga tidak heran praktik korupsi menjamur.
Tiga tahun setelah
kepulangan ke Indonesia, Habibie (usia 41 tahun) mendapat gelar Profesor Teknik
dari ITB. Selama 20 tahun menjadi Menristek, akhirnya pada tanggal 11 Maret
1998, Habibie terpilih sebagai Wakil Presiden RI ke-7 melalui Sidang Umum
MPR.Di masa itulah krisis ekonomi (krismon) melanda kawasan Asia termasuk
Indonesia. Nilai tukar rupiah terjun bebas dari Rp 2.000 per dolar AS menjadi
Rp 12.000-an per dolar. Utang luar negeri jatuh tempo sehinga membengkak akibat
depresiasi rupiah.Hal ini diperbarah oleh perbankan swasta yang mengalami
kesulitan likuiditas.Inflasi meroket diatas 50%, dan pengangguran mulai terjadi
dimana-mana.Pada saat bersamaan, kebencian masyarakat memuncak dengan sistem
orde baru yang sarat Korupsi, Kolusi, Nepotisme yang dilakukan oleh kroni-kroni
Soeharto (pejabat, politisi, konglomerat). Selain KKN, pemerintahan Soeharto
tergolong otoriter, yang menangkap aktivis dan mahasiswa vokal.
Dipicu penembakan 4
orang mahasiswa (Tragedi Trisakti) pada 12 Mei 1998, meletuslah kemarahan
masyarakat terutama kalangan aktivis dan mahasiswa pada pemerintah
Orba.Pergerakan mahasiswa, aktivis, dan segenap masyarakat pada 12-14 Mei 1998
menjadi momentum pergantian rezim Orde Baru pimpinan Pak Hato.Dan pada 21 Mei
1998, Presiden Soeharto terpaksa mundur dari jabatan Presiden yang dipegangnya
selama lebih kurang 32 tahun.Selama 32 tahun itulah, pemerintahan otoriter dan
sarat KKN tumbuh sumbur.Selama 32 tahun itu pula, banyak kebenaran yang
dibungkam.Mulai dari pergantian Pemerintah Soekarno (dan pengasingan Pres
Soekarno), G30S-PKI, Supersemar, hingga dugaan konspirasi Soeharto dengan pihak
Amerika dan sekutunya yang mengeruk sumber kekayaan alam oleh kaum-kaum
kapitalis dibawah bendera korpotokrasi (termasuk CIA, Bank Duni, IMF dan
konglomerasi).
Soeharto mundur, maka
Wakilnya yakni BJ Habibie pun diangkat menjadi Presiden RI ke-3 berdasarkan
pasal 8 UUD 1945.Namun, masa jabatannya sebagai presiden hanya bertahan selama
512 hari.Meski sangat singkat, kepemimpinan Presiden Habibie mampu membawa
bangsa Indonesia dari jurang kehancuran akibat krisis.Presiden Habibie berhasil
memimpin negara keluar dari dalam keadaan ultra-krisis, melaksanankan transisi
dari negara otorian menjadi demokrasi.Sukses melaksanakan pemilu 1999 dengan
multi parti (48 partai), sukses membawa perubahan signifikn pada stabilitas,
demokratisasi dan reformasi di Indonesia.Habibie merupakan presiden RI pertama
yang menerima banyak penghargaan terutama di bidang IPTEK baik dari dalam
negeri maupun luar negeri.Jasa-jasanya dalam bidang teknologi pesawat terbang
mengantarkan beliau mendapat gelar Doktor Kehormatan (Doctor of Honoris Causa)
dari berbagaai Universitas terkemuka dunia, antara lain Cranfield Institute of
Technology dan Chungbuk University.
Catatan-Catatan Istimewa BJ Habibie
Habibie Bertemu Soeharto
“Laksanakan saja tugasmu dengan baik,
saya doakan agar Habibie selalu dilindungi Allah SWT dalam melaksanakan
tugas.Kita nanti bertemu secara bathin saja“, lanjut Pak Harto menolak bertemu
dengan Habibie pada pembicaraan via telepon pada 9 Juni 1998.
(Habibie : Detik-Detik yang Menentukan.
Halaman 293)
Salah satu pertanyaan
umum dan masih banyak orang tidak mengetahui adalah bagaimana Habibie yang
tinggal di Pulau Celebes bisa bertemu dan akrab dengan Soeharto yang
menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Pulau Jawa?Pertemuan pertama kali
Habibie dengan Soeharto terjadi pada tahun 1950 ketika Habibie berumur 14
tahun.Pada saat itu, Soeharto (Letnan Kolonel) datang ke Makasar dalam rangka
memerangi pemberontakan/separatis di Indonesia Timur pada masa pemerintah
Soekarno.Letkol Soeharto tinggal berseberangan dengan rumah keluarga Alwi Abdul
Jalil Habibie.Karena ibunda Habibie merupakan orang Jawa, maka Soeharto pun
(orang Jawa) diterima sangat baik oleh keluarga Habibie.Bahkan, Soeharto turut
hadir ketika ayahanda Habibie meninggal.Selain itu, Soeharto pun menjadi “mak
comblang” pernikahan adik Habibie dengan anak buah (prajurit) Letkol
Soeharto.Kedekatan Soeharto-Habibie terus berlanjut meskipun Soeharto telah
kembali ke Pulau Jawa setelah berhasil memberantas pemberontakan di Indonesia
Timur.
Setelah Habibie
menyelesaikan studi (sekitar 10 tahun) dan bekerja selama hampir selama 9 tahun
(total 19 tahun di Jerman), akhirnya Habibie dipanggil pulang ke tanah air oleh
Pak Harto. Meskipun ia tidak mendapat beasiswa studi ke Jerman dari pemerintah,
pak Habibie tetap bersedia pulang untuk mengabdi kepada negara, terlebih
permintaan tersebut berasal dari Pak Harto yang notabene adalah ‘seorang guru’
bagi Habibie. Habibie pun memutuskan kembali ke Indonesia untuk memberi ilmu
kepada rakyat Indonesia, kembali untuk membangun industri teknologi tinggi di
nusantara.
Bersama Ibnu Sutowo,
Habibie kembali ke Indonesia dan bertemu dengan Presiden Soeharto pada tanggal
28 Januari 1974. Habibie mengusulkan beberapa gagasan pembangunan seperti
berikut:
1).Gagasan pembangunan
industri pesawat terbang nusantara sebagai ujung tombak industri strategis
2).Gagasan pembentukan Pusat Penelitan
dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspitek)
3).Gagasan mengenai
Badan Pengkajian dan Penerapan Ilmu Teknologi (BPPT)
4).Gagasan-gagasan awal Habibie menjadi
masukan bagi Soeharto, dan mulai terwujud ketika Habibie menjabat sebagai
Menristek periode 1978-1998.
Namun, dimasa tuanya,
hubungan Habibie-Soeharto tampaknya retak.Hal ini dikarenakan berbagai
kebijakan Habibie yang disinyalir “mempermalukan” Pak Harto.Pemecatan Letjen
(Purn) Prabowo Subianto dari jabatan Kostrad karena memobilisasi pasukan
kostrad menuju Jakarta (Istana dan Kuningan) tanpa koordinasi atasan merupakan
salah satu kebijakan yang ‘menyakitkan’ pak Harto.Padahal Prabowo merupakan
menantu kesayangan Pak Harto yang telah dididik dan dibina menjadi penerus
Soeharto. Pemeriksaan Tommy Soeharto sebagai tersangka korupsi turut membuat
Pak Harto ‘gerah’ dengan kebijakan pemerintahan BJ Habibe, terlebih dalam
beberapa kali kesempatan di media massa, BJ Habibie memberi lampu hijau untuk
memeriksa Pak Harto. Padahal Tommy Soeharto merupakan putra “emas’ Pak
Harto.Dan sekian banyak kebijakan berlawanan dengan pemerintah Soeharto dibidang
pers, politik, hukum hingga pembebasan tanpa syarat tahanan politik Soeharto
seperti Sri Bintang Pamungkas dan Mukhtar Pakpahan.
Habibie : Bapak Teknologi Indonesia
Pemikiran-pemikiran
Habibie yang “high-tech” mendapat “hati” pak Harto.Bisa dikatakan bahwa
Soeharto mengagumi pemikiran Habibie, sehingga pemikirannya dengan mudah
disetujui pak Harto.Pak Harto pun setuju menganggarkan “dana ekstra” untuk
mengembangkan ide Habibie.Kemudahan akses serta kedekatan Soeharto-Habibie
dianggap oleh berbagai pihak sebagai bentuk kolusi Habibie-Soeharto. Apalagi,
beberapa pihak tidak setuju dengan pola pikir Habibie mengingat pemerintah
Soeharto mau menghabiskan dana yang besar untuk pengembangan industri-industri
teknologi tinggi seperti saran Habibie.Tanggal 26 April 1976, Habibie
mendirikan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan menjadi industri pesawat
terbang pertama di Kawasan Asia Tenggara (catatan : Nurtanio meruapakan Bapak
Perintis Industri Pesawat Indonesia). Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian
berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober
1985, kemudian direkstrurisasi, menjadi Dirgantara Indonesia (PT DI) pada
Agustuts 2000. Perlakuan istimewapun dialami oleh industri strategis lainnya
seperti PT PAL dan PT PINDAD.
Sejak pendirian
industri-industri statregis negara, tiap tahun pemerintah Soeharto
menganggarkan dana APBN yang relatif besar untuk mengembangkan industri
teknologi tinggi. Dan anggaran dengan angka yang sangat besar dikeluarkan sejak
1989 dimana Habibie memimpin industri-industri strategis.Namun, Habibie
memiliki alasan logis yakni untuk memulai industri berteknologi tinggi, tentu
membutuhkan investasi yang besar dengan jangka waktu yang lama.Hasilnya tidak
mungkin dirasakan langsung.Tanam pohon durian saja butuh 10 tahun untuk
memanen, apalagi industri teknologi tinggi.Oleh karena itu, selama
bertahun-tahun industri strategis ala Habibie masih belum menunjukan hasil dan
akibatnya negara terus membiayai biaya operasi industri-industri strategis yang
cukup besar.
Industri-industri
strategis ala Habibie (IPTN, Pindad, PAL) pada akhirnya memberikan hasil
seperti pesawat terbang, helikopter, senjata, kemampuan pelatihan dan jasa
pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat, amunisi, kapal,
tank, panser, senapan kaliber, water canon, kendaraan RPP-M, kendaraan combat
dan masih banyak lagi baik untuk keperluan sipil maupun militer.Untuk skala
internasional, BJ Habibie terlibat dalam berbagai proyek desain dan konstruksi
pesawat terbang seperti Fokker F 28, Transall C-130 (militer transport), Hansa
Jet 320 (jet eksekutif), Air Bus A-300, pesawat transport DO-31 (pesawat dangn
teknologi mendarat dan lepas landas secara vertikal), CN-235, dan CN-250
(pesawat dengan teknologi fly-by-wire). Selain itu, Habibie secara tidak
langsung ikut terlibat dalam proyek perhitungan dan desain Helikopter Jenis
BO-105, pesawat tempur multi function, beberapa peluru kendali dan satelit.
Karena pola pikirnya
tersebut, maka saya menganggap beliau sebagai bapak teknologi Indonesia,
terlepaskan seberapa besar kesuksesan industri strategis ala Habibie. Karena
kita tahu bahwa pada tahun 1992, IMF menginstruksikan kepada Soeharto agar
tidak memberikan dana operasi kepada IPTN, sehingga pada saat itu IPTN mulai
memasuki kondisi kritis. Hal ini dikarenakan rencana Habibie membuat satelit
sendiri (catatan : tahun 1970-an Indonesia merupakan negara terbesar ke-2
pemakaian satelit), pesawat sendiri, serta peralatan militer sendiri. Hal ini
didukung dengan 40 0rang tenaga ahli Indonesia yang memiliki pengalaman kerja
di perusahaan pembuat satelit Hughes Amerika akan ditarik pulang ke Indonesia
untuk mengembangkan industri teknologi tinggi di Indonesia. Jika hal ini
terwujud, maka ini akan mengancam industri teknologi Amerika (mengurangi pangsa
pasar) sekaligus kekhawatiran kemampuan teknologi tinggi dan militer Indonesia.
Teori Pembangunan Ekonomi Habibie
Menjadi pimpinan di
Industri Pesawat Terbang skala besar di Jerman selama bertahun-tahun memberikan
inspirasi dan mempengaruhi pemikiran Habibie. Berlandaskan pengalaman itu,
Habibie memiliki keyakinan bahwa untuk bisa menjadi negara maju tidak selalu
perlu melewati “tahap-tahap” pembangunan yakni pertanian/agraris industri
pengolahan pertanian, manufaktur, industri teknologi rendah/menengah baru ke
teknologi tinggi. Ia mengemukan teori pembangunan ekonomi negara yang berbeda
yakni “Dari negara agraris langsung melompat ke tahap negara industri teknologi
tinggi”, tanpa harus menunggu dan melewati kematangan indsutri pertanian, atau
tahapan industri manufaktur serta teknologi rendah.
“The basis of any
modern economy is in their capability of using their renewable human
resources. The best renewable human
resources are those human resources which are in a position to contribute to a
product which uses a mixture of high-tech.” (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile
-1998.)
Dari teori pembangunan
ekonomi tersebut, Habibie sangat menekankan pada kualitas SDM bukan semata
SDA.Dengan meningkatkan sumber daya manusia (human resources), maka kita dapat
membuat produk berteknologi tinggi dimana memiliki nilai jual yang tinggi. Hal
ini pun akan mentriger berdirinya perusahaan-perusahaan pendukung dengan
teknologi lebih rendah. Jadi, prinsip pembangunan industri ala Habibie adalah
Top-Down (dari tinggi hingga ke rendah).Sedangkan secara konvensional adalah
dari Down-Top (dari industri teknologi rendah ke teknologi tinggi).Selama masa
pengabdiannya di Indonesia, Habibie memegang 47 jabatan penting seperti :
Direkur Utama (Dirut) PT. Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN), Dirut PT
Industri Perkapalan Indonesia (PAL), Dirut PT Industri Senjata Ringan (PINDAD),
Kepala Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam, Kepala BPPT, Kepala
BPIS, Ketua ICMI, dan masih banyak lagi.
Habibie : Bapak Demokrasi Indonesia
Ketika mendapat amanah
menjadi Presiden RI ke-3, kondisi ekonomi, sosial, stabilitas politik, keamanan
di Indonesia berada di ujung tanduk “revolusi”. Dengan mengambil kebijakan yang
salah serta pengelolaan ekonomi yang tidak tepat, maka Indonesia 1998
berpotensi masuk dalam era “chaos” ataupun revolusi berdarah. (catatan : perlu
diingat bahwa reformasi 1998 menelan ratusan bahkan ribuan korban pembunuhan
dan pemerkosaan serta serangkaian kerusuhan, penjarahan, pembakaran, yang
terutama ditujukan pada etnis Tionghoa). Untungnya di tahun 1998, Indonesia
tidak masuk dalam era revolusi jilid-2 namun hanya masuk dalam era reformasi.
Belajar dari kesalahan
presiden pendahulunya, Jenderal Soeharto, Presiden Habibie memimpin Indonesia
dengan cermat, cepat, telaten, rasional dan reformis. Habibie menunjukkan
perhatiannya terhadap keinginan bangsa untuk lebih mengerti dan menerapkan
prinsip umum demokrasi. Perhatiannya didasarkan pada pengamatan Habibie pada
pemerintahan Orde Lama dan sebagai pejabat pada masa Orde Baru, dimana telah
mengarahkan beliau untuk mempelajari situasi yang ada. Melalui proses yang
sistematik, menyeluruh, dan menyatu, Habibie mengembangkan sebuah konsep yang
lebih jelas, sebuah pengejewantahan dari proaktif dan prediksi preventive atas
interpretasi dari demokrasi sebagai sebuah mesin politik. Konsep ini kemudian
diimplementasikan dalam berbagai agenda politik, ekonomi, hukum dan keamanan
seperti:
1).Kebebasan multi
partai dalam pemilu (UU 2 tahun 1999)
2).Undang Undang anti
monopoli (UU 5 tahun 1999)
3).Kebijakan
Independensi BI agar bebas dari pengaruh Presiden (UU 23 tahun 1999)
4).Kebebasan berkumpul
dan berbicara, (selanjutnya masyarakat lebih mengenal istilah demonstrasi)
5).Pengakuan Hak Asasi
Manusia (UU 39 tahun 1999)
Kebebasan pers dan media,
Usaha usaha menciptakan
pemerintahan yang efektif dan efisien yang bebas dari korupsi, kolusi, dan
nepotisme atau dengan kata lain adalah pemerintahan yang baik dan bersih.
(Membuat UU Pemberantasan Tindak Korupsi pada tahun 1999)
-Penghormatan terhadap badan badan hukum
dan berbagai institusi lainnya yang dibentuk atas prinsip demokrasi;
-Pembebasan tahanan-tahanan politik
tanpa syarat, (eg. Sri Bintang Pamungkas dan Muktar Pakpahan)
Pemisahan Kesatuan Polisi dari Angkatan
Bersenjata.
Dalam waktu yang
relatif singkat sebagai Presiden RI, Habibie telah memelihara pandangan modern
beliau dalam demokrasi dan mengimplementasikannya dalam setiap proses pembuatan
keputusan. Peran penting Habibie dalam percepatan proses demokrasi di Indonesia
dikenal baik oleh masyarakat nasional ataupun internasional sehingga beliau
dianggap sebagai “Bapak Demokrasi“. Komitmen beliau terhadap demokrasi adalah
nyata. Ketika MPR, institusi tertinggi di Indonesia yang memiliki wewenang
untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, menolak pidato pertanggung-jawaban
Habibie (masalah referendum Timor-Timur), Habibie secara berani mengundurkan
diri dari pemilihan Presiden yang baru pada tahun 1999. Beliau melakukan ini,
selain penolakan MPR atas pidatonya tidak mengekang beliau untuk terus ikut
serta dalam pemilihan, dan keyakinan dari pendukung beliau bahwa beliau akan
tetap bisa unggul dari kandidat Presiden lainnya, karena yakin bahwa sekali
pidatonya ditolak oleh MPR akan menjadi tidak etis baginya untuk terus ikut
dalam pemilihan. Keputusan ini juga dimaksudkan sebagai pendidikan politik dari
arti sebuah demokrasi.
Karena “demokratis”-nya
Habibie, maka iapun memberikan opsi referendum bagi rakyat Timor-Timur untuk
menentukan sikap masa depannya.Namun, perlu dicatat bahwa Habibie bukanlah
orang yang bodoh dengan mudah memberikan opsi referendum tanpa alasan yang
jelas dan tepat.Habibie sebagai Presiden RI memberikan opsi referendum kepada
rakyat Timor-Timur mengingat bahwa Timor-Timur tidak masuk dalam peta wilayah
Indonesia sejak deklarasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Secara yuridis, wilayah kesatuan negara Indonesai sejak 17 Agustus 1945 adalah
wilayah bekas kekuasaan kolonialisme Belanda yakni dari Sabang (Aceh) hingga
Merauke (Irian Jaya/ Papua). Ketika Indonesia merdeka, Timor-Timur merupakan
wilayah jajahan Portugis, dan bergabung bersama Indonesia dengan dukungan
kontak senjata.Bagi sebagian orang menganggap bahwa masuknya militer Indonesia
di Timor-Timur merupakan bentuk neo-kolonialisme baru (penjajahan modern) dari
Indonesia pada tahun 1975. Seharusnya Indonesia tidak ikut campur pada proses
kemerdekaan Timor-Timur dari penjajahan Portugis. Jadi, kita dapat memahami
dibalik landasan Habibie dimana provinsi Timor-Timur lepas dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia.Perlu dicatat bahwa kasus Aceh dan Papua berbeda dengan
Timor-Timur.
Habibie : Master of Economic
Sejak era reformasi
1998, tampaknya hanya Habibie yang menjadi presiden yang benar-benar sukses
mengelola ekonomi dengan baik.Dalam kondisi yang amburadul, kacau balau baik
dalam bidang ekonomi, politik, sosial dan tiada hari tanpa demonstrasi, Habibie
mampu membawa ekonomi Indonesia yang lebih baik.Meskipun Presiden Singapura Lee
Kuan Yeew berusaha mendiskritkan kemampuan Habibie untuk memimpin Indonesia,
toh Habibie menunjukkan bukti.Ketika banyak orang yang menyangsikan bahwa
Habibie mampu bertahan selama 3 hari sebagai Presiden, namun semua dapat
dilalui.Lalu, pihak-pihak yang tidak suka dengan Habibie pun menyampaikan opini
bahwa Habibie tidak mampu bertahan lebih dari 100 hari. Sekali lagi, Habibie
membuktikan bahwa ia mampu memimpin Indonesia dalam kondisi kritis.
Dari nilai tukar rupiah
Rp 15000 per dollar diawal jabatannya, Habibie mampu membawa nilai tukar rupiah
ke posisi Rp 7000 per dollar. Ketika inflasi mencapai 76% pada periode
Januari-September 1998, setahun kemudian Habibie mampu mengendalikan harga
barang dan jasa dengan kenaikan 2% pada periode Januari-September 1999. Indeks
IHSG naik dari 200 poin menjadi 588 poin setelah 17 bulan memimpin.Tentu,
indikator-indikator kesuksesan ekonomi era Habibie tidak dapat diikuti dengan
baik oleh masa pemerintah Megawati maupun SBY.Beberapa keberhasilan ekonomi di
era Habibie sebenarnya tidak lepas dari usaha keras dan perubahan mendasar dari
para tokoh reformis yang duduk di kabinet seperti Adi Sasono (Men.Koperasi),
Soleh Salahuddin (Men.Kehutanan dan Perkebunan), Tanri Abeng (Men.BUMN).Namun,
perlu disadari bahwa Habibie bukanlah presiden yang benar-benar reformis dalam
menolak kebijakan ekonomi ala IMF. Dengan keterbatasannya, beliau terpaksa
menjalana 50 butir kesepakatan (LoI) antara pemerintah Indonesia dengan IMF,
sehingga penangganan krisis ekonomi di Indonesia pada hakikatnya lebih pada
penyembuhan dengan “obat generik”, bukan penyembuhan ekonomi “terapis” ataupun
“obat tradisional”. Sehingga ketika meninggalkan tampuk kekuasaan, Indonesia
masih rapuh.Disisi lain, Habibie masih sangat mempercayai tokoh-tokoh Orba
duduk di kabinetnya, padahal masyarakat menuntut reformasi. Dan tampaknya,
Habibie memang menempatkan dirinya sebagai Presiden Transisi, bukan Presiden
yang Reformis.
Habibie : Cendekiawan Muslim
Kekuasaan adalah amanah
dan titipan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, bagi mereka yang percaya atas
eksistensi-Nya.Bagi mereka yang tidak percaya atas eksistensi-Nya, kekuasaan
adalah amanah dan titipan rakyat. Pemilik kekuasaan tersebut, setiap saat dapat
mengambil kembali milik Nya dengan cara apa saja.
(Habibie : Detik Detik yang Menentukan,
halaman 31)
Selain memiliki kecerdasan
yang tinggi (mungkin orang terjenius dari Indonesia), Habibie dikenal sebagai
cendekiawan muslim yang taat sekaligus reformis. Dalam menghadapi berbagai
kesulitan, Habibie tidak luput dari do’a dan sholat untuk mendapat petunjuk
atau ilham.Mendapat jabatan sebagai Presiden bagi Habibie merupakan amanah dan
titipan dari Allah untuk mengabdi dengan sepenuh hati.Meskipun tidak terjun
dalam dunia politik dan kekuasaan, Habibie tetap memberikan sumbangsih kepada
bangsa Indonesia dengan mendirikan The Habibie Centre pada 10 November 1999.
Habibie Center merupakan organisasi yang berusaha memajukan proses modernisasi
dan demokratisasi di Indonesia yang didasarkan pada moralitas dan integritas
budaya dan nilai-nilai agama. Ada dua misi utama Habibie centre yakni (1)
menciptakan masyarakat demokratis secara kultural dan struktural yang mengakui,
menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia, serta mengkaji dan
mengangkat isu-isu perkembangan demokrasi dan hak asasi manusia, dan (2)
memajukan dan meningkatkan pengelolaan sumber daya manusia dan usaha
sosialisasi teknologi. Beberapa kegiatan yang dikenal luas oleh masyarakat dari
Habibie Centre yakni seminar, pemberian beasiswa dalam dan luar negeri, Habibie
Award serta diskusi mengenai peningkatan SDM maupun IPTEK.
Selain mendirian The
Habibie Centre, Habibie juga berjasa dalam pendirian Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia (ICMI) pada 7 Desember 1990 atas persetujuan Soeharto. ICMI merupakan
wahana menampung cendekiawan-cendekiawan muslim untuk bersama-sama
berkontribusi bagi bangsa dan masyarakat. Pada awalnya, ICMI didirikan untuk
menampung aspirasi pengusaha non-China yang benci akan kekayaan dan pengaruh
dari keluarga etnis China yang kaya. ICMI mempunyai bank sendiri dan koran
harian yang diberi nama Republika. Banyak umat muslim yang ikut terdaftar dalam
keanggotaan ICMI termasuk cendekiawan pengkritik pemerintah Soeharto yakni
(Alm) Prof. Nurcholish Majid dan Prof. Amien Rais.
Kritikan Untuk Seorang Habibie ketika
Menjadi Presiden
Tidak ada gading yang
tidak tidak retak, begitu juga halnya pada diri BJ Habibie.Ada beberapa
kepribadian dan sikap/kebijakan BJ Habibie khususnya di masa pemerintahannya
yang kontroversial dan dianggap buruk. Dibidang kepribadian, BJ Habibie dikenal
sebagai orang yang kurang bisa dikritik (langsung reaktif), meskipun disisi
lain beliau sangat menghargai pendapat orang lain, dan senang berdebat. Hal ini
sangat mungkin disebabkan karena beliau terlampu jenius, terlalu cerdas.Salah
satunya adalah kengototan Menristek BJ Habibie membeli 36 kapal perang bekas
Jerman Timur pada 1992.Padahal terjadi pembengkakan pembelian kapal perang
bekas dari USD 12.7 juta menjadi USD 1.1 miliar.Ketika menjadi Presiden RI
menggantikan Soeharto, banyak orang berharap agar BJ Habibie dapat bertindak
tegas kepada Pak Harto yang diduga melakukan KKN, setidaknya gurita KKN di
Cendana dan kroni Soeharto lainnya. Namun, selama menjadi Presiden RI, BJ
Habibie tidak pernah memeriksa Soeharto.Pres Habibie dianggap memasang badan
melindungi Soeharto sampai-sampai Jam Intel Kejagung Mayjen (Purn) Syamsal
Djalal dipecat.Menurut pengakuan mantan Jam Intel Kejagung Syamsul Djalal, ia
dipecat lantaran mengusulkan agar Pak Harto secepatnya dibawah ke
pengadilan.Bisa dimaklumi pula bahwa Habibie dalam posisi dilematis, karena
bagaimanapun Pak Harto adalah salah satu gurunya.
Hal lain yang menjadi
catatan hitam Pak Habibie adalah penangangan kasus Bank Bali. Presiden BJ
Habibie dianggap kurang serius menangani kasus yang melibatkan orang-orang yang
dekat dengan Habibie.Mereka yang disebut-sebut terlibat dalam skandal Bank Bali
diantaranya adalah Timmy Habibie (adik kandung Habibie), AA Baramuli (Ketua
DPA), Setya Novanto (Wa.Bendara Golkar) dan Tanri Abeng.Dikalangan pengusaha,
terlibat konglomerat hitam Djoko Tjandra yang selama ini dekat dengan petinggi
Golkar.
Penutup
Setelah tulisan biografi Habibie yang
“super panjang” ini, saya akan mengakhiri ceritera ini dengan beberapa poin
harapan.
Semoga “Habibie-Habibie” baru yang
genius bermunculan di seantero nusantara sehingga Indonesia tidak hanya menjadi
“penonton” atau konsumen atas produk-produk berteknologi
Semoga generasi muda bangsa Indonesia
memiliki semangat teknopreneur yang minimal sama dengan semangat Habibie dalam
mengembangkan industri-industri strategis. Dan harapannya, orang-orang pintar
dan cerdas Indonesia dapat memberikan karyanya bagi perkembangan industri
Indonesia, bukan menghabiskan seluruh hidupnya di perusahaan asing.
Para calon pemimpin dan para politisi
partai perlu bercermin diri dan cobalah insaf agar “tidak gila kekuasaan”, dan
ketika memegang kekuasaan jangan serakah (KKN) dan sombong.
Saya bangga dengan sikap Habibie yang
tidak mencalonkan diri sebagai presiden, namun beliau tetap memberikan
kontribusi nyata melalui berbagai organisasinya seperti The Habibie Centre
serta siap selalu memberikan masukan dan bimbingan bagi para politisi/penguasa
melalui berbagai dialog atau seminar.
Semoga Habibie terus memberikan
sumbangsih pemikiran dan tenaganya bagi bangsa Indonesia dan selalu dikarunia
fisik yang sehat.
(Sumber: ech-nusantaraku 2 April 2009)
Kunjungan Bapak B.J. Habibie ke Kantor Manajemen
Garuda Indonesia
Garuda City Complex, Bandara Soekarno-Hatta
Pada usianya 74 tahun, mantan
Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia
didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan keponakannya(?), Adri Subono,
juragan Java Musikindo.Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President
CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager
yang sedang berada di Jakarta.Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai
Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia
sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap.Sebagai “balasan” pak
Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara
Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!).
Video N250 bernama Gatotkaca
terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus diescort oleh satu
pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan
teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di
angkasa Bandung.Dalam video tersebutsb, tampak para hadirin yang menyaksikan di
pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI
bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para
teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas
keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio
komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba
mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto
karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250.
N250 sang Gatotkaca kembali
pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan
Di
hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih
kurang sebagai berikut:
“Dik, anda tahu,saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau
membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua
hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan.“
Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling
unggul, itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah
Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur Indonesia dengan
geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan
nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara. Kala itu, tak ada
ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan
oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan
teknologi dirgantara.
Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang
secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu
bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja
praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial
aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya
melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan
‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun
perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN.
Sekarang Dik anda semua lihat sendiri N250 itu bukan pesawat
asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’
(istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat
itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5
tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia
yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan
negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa
persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA.
IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar
negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan
mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat
terbang?’Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula
dengan industri strategis lainnya.
Dik tahu di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri
strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan
Indonesia.Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari
negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik
pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa.Hati siapa yang tidak sakit
menyaksikan itu semua?.Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar
dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier,
Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun.Tapi
keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus
mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara
mereka!” Pak Habibie menghela nafas
Ini
pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas;
Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi
(JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim
Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737
yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang).Saya bersyukur, akhirnya
ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung
bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang
uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut
mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan
pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan
menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang
mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat
sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di
kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di
laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang
sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu
membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien
bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum wiglet dipergunakan di
beberapa pesawat generasi masa kini.
Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih
prototipe pertama N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop,
keduanya sangat handal dan canggih kala itu bahkan hingga kini.Lamunan saya
ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya
memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar
lahir.kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320.
Pak
Habibie melanjutkan pembicaraannya
“Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin
engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan
karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai
manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang
metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu
tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”.
“Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,
−
Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan
konsisten− C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing
dengan produsen sejenis− D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome
berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu
saja!”
Pak
Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb:
“Kalau
saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula,
jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik, organisasi
itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau
3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya,
bekerjanya harus pakai hati Dik”
Tiba-tiba,
pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu
“Dik,
saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi
Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI,
itu semua bukan kejadian tiba-tiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah
dipisahkan dengan Ainun,ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi
dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa
hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak
dengan saya. Gini ya,saya mau kasih informasi,saya ini baru tahu bahwa ibu
Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan
tak pernah ada keluhan keluar dari ibu.”
Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia
sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam seisi ruangan hening
dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa
terasa air mata mulai menggenang.Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak
Habibie melanjutkan.
“Dik,
kalian tau 2 minggu setelah ditinggalkan ibu. suatu hari, saya pakai piyama
tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil
memanggil-manggil nama ibu, Ainun.., Ainun.., Ainun. saya mencari ibu di semua
sudut rumah.
Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu
berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini’ mereka
bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’.
Para
Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan;
1.
Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai
saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di
Rumah Sakit Jiwa.
2.
Opsi kedua, para
dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terus-menerus
dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya
sudah gila dan harus diawasi terus.
3.
Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa
saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih
hidup.
“Saya pilih opsi yang ketiga”
Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang
biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie
seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir
beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam
menyampaikan sesuatu) ia melanjutkan pembicaraannya;
“Dik,
hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun dan hari ini persis 597 hari Garuda
Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air
Indonesia.Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat saya
menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen
yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham
dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar
Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia
telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan
memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam
Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi,
saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia”
Seluruh
hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata
Setelah
jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya;
“Dik,
sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat
menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui.
Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara
dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku
ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku
ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara
lain Inggris, Arab, Jepang.(saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4
atau 5 bahasa asing).Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak
Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan
langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana
belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga
mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka.
Dik, asal you tahu semua uang hasil penjualan buku ini tak
satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil
penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan
ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para penyandang
tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika
bisa melihat.Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan
saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli
banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain.Sekali lagi, buku ini kisah
kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi
Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif.”
B.
Pemahaman
Sosok B.J Habibie
1. Aspek
Ekonomi
Beliau merupakan orang
yang berasal dari keluarga yang memang sudah mempunyai kehidupan ekonomi yang
baik ini terbukti dengan semua biaya kuliah beliau dibiayai sendiri oleh
ibunya. Dan ketika ia masih kuliah juga ia sambil bekerja dalam suatu industry
pesawat terbang di Jerman tersebut. Kehidupan ekonomi habibie juga sangat baik
ketika ia berhasil menjadi vice president dan direktur di industry terkenal
dijerman. Ia juga sangat dikagumumi oleh orang-orang jerman.
2. Aspek
Agama
Selain memiliki
kecerdasan yang tinggi (mungkin orang terjenius dari Indonesia), Habibie
dikenal sebagai cendekiawan muslim yang taat sekaligus reformis. Dalam
menghadapi berbagai kesulitan, Habibie tidak luput dari do’a dan sholat untuk
mendapat petunjuk atau ilham. Mendapat jabatan sebagai Presiden bagi Habibie
merupakan amanah dan titipan dari Allah untuk mengabdi dengan sepenuh hati.
Categories:






0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan sopan